Selasa, 29 November 2011

Antara IPL, ISL dan Persiraja


SPANDUK 'Welcome ISL" yang dipasang pendukung Persiraja Banda Aceh di tribun utara Stadion H Dimurthala raib. Sebelumnya, spanduk yang sudah dipasang dalam dua bulan terakhir selalu setia 'menemani' latihan rutin Andria dan kolega.

Sama seperti setianya para Skullers--sebutan untuk Suporter Kutaraja Untuk Lantak Laju (Skull) Persiraja. Mereka jugalah yang acap memompa semangat pemain ketika bertanding. Tujuan cuma satu menapak di kasta elite sepakbola tanah air.

Memang, semua pemain berharap bisa tampil dikasta tertinggi sepakbola tanah air --ketika itu---bernama Indonesian Super League (ISL). Promosi ke kasta tertinggi adalah prestasi.

Ini menjadi petanda juga melejitnya karier seorang pemain bersama klub. Di tambah isi spanduk, menjadi pemantik motivasi untuk menggapai prestasi lebih tinggi. Dia seakan-akan mampu menyuntik adrenalin skuad Laskar Rencong.

Terbukti, mereka lolos ke ISL secara jantan sebagai runner-up Divisi Utama Liga Indonesia musim 2011-2012. Di posisi pertama tentu saja Persiba Bantul yang sukses tampil sebagai champione.

Kerja keras dan perjuangan sudah dibuktikan Abdul Musawir dkk sepanjang satu musim silam. Namun, kala angin reformasi di tubuh Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) menerjang, kompetisi yang digulirkan pun sempat berhenti.

Lalu, nama kompetisi pun berganti; dari ISL ke IPL (Indonesian Premier League). "Kami tak masalah main di kompetisi dengan nama apapun, yang penting legal," pungkas el capiten Laskar Rencong, Abdul Musawir. "Apapun namanya, ini sepakbola kasta tertinggi di Indonesia, kami sudah ada di sana."

ISL masih dianggap sebagai kompetisi yang sah sesuai hasil kongres di Bali, dan dikelola oleh PT Liga Indonesia (LI). Kini terjadi dualisme kompetisi. Hal ini bermula dari keputusan PSSI mengalihkan pengelolaan liga dari PT Liga Indonesia (PT LI) ke PT Liga Prima Indonesia Sportindo (PT LPIS).

Sedangkan Ketua Umum PSSI Djohar Arifin Husin kembali menegaskan, PSSI hanya mengakui Indonesian Premier League (IPL) sebagai kompetisi yang sah. Kompetisi di luar PSSI, seperti Indonesian Super League (ISL), adalah kompetisi yang ilegal.

Para pendukung tim juga memberi komentar yang nyaris sama. "Saya rasa Persiraja sudah memilih kompetisi yang tepat dan legal," ungkap Aziz, seorang tifosi Lantak Laju di Banda Aceh.

Begitu pula dengan para suporter di jejaring sosial juga ikut mendukung. "Mau ISL kek, mau IPL kek.....yang jelas dimana pun Persiraja main dan siapapun lawan-lawannya nanti yang penting kami ingin Persiraja dan sepakbola Indonesia maju," ulas Taufik.

Lantas tersiar kabar, dukungan fans Persiraja pada musim ini diperkirakan akan sedikit berkurang. Penyebabnya tak lain karena faktor klub berkompetisi di IPL.
Bahkan, di kalangan Skullers terjadi perdebatan soal penampilan Persiraja di ajang ini.

Kehadiran dua kompetisi kasta tertinggi di Indonesia, yaitu IPL dan ISL, membuat suporter setia Persiraja bak dipersimpangan jalan. Meski pada prinsipnya, Skull siap memberi dukungan untuk Yufha Andika dkk.

Ini terbukti pada debut di IPL, akhir pekan kemarin. Para Skullers tetap mendukung penuh Persiraja Banda Aceh meskipun terjadi konflik di tubuh PSSI dengan munculnya dua kompetisi level tertinggi.

"Terserah mau di IPL, ISL, bahkan pertandingan tarkam sekalipun, kami merasa berkewajiban mendukung Persiraja. Kehadiran kami murni karena kecintaan pada tim ini," tukas Ketua Skull Teuku Iqbal Djohan.

Menurut Iqbal, punca masalah itu ada di PSSI pusat, bukan di klub dan suporternya.
"Jangan gara-gara perpecahan di PSSI merembet ke pengurus dan suporter klub," keluhnya.

Terkait itu, Iqbal menyarankan semua klub untuk duduk bersama mencari solusi menyikapi dualisme kompetisi itu. Pasalnya, Laskar Rencong tak pernah bermimpi bertarung di IPL.

Pasalnya, musim lalu, Persiraja sukses promosi ke kasta elite Liga Super usai tampil sebagai runner-up Divisi Utama Liga Indonesia. Namun musim ini, Persiraja tampil di IPL, kompetisi resmi yang digelar PSSI.

Akibat kisruh di tubuh PSSI, semua mimpi skuller untuk menyaksikan tim elite Indonesia tampil di Aceh menjadi buyar. Dia antara dualiasme kompetisi itu, Skull tak pernah mendorong Persiraja berkompetisi di IPL, atau pun mendesak pengurus Persiraja untuk ikut ISL.

Memang ironi, berjuang merebut tiket ke ISL, Persiraja malah bermain di IPL. Tapi memang begitulah kompetisi negeri ini, sehingga spanduk "Welcome IPL" dianggap tak begitu perlu.
[tulisan ini sudah Waspada, Selasa 29/11/2011]

Read more »

Selasa, 26 April 2011

Panggil Saja Aku Nakata...


MUKLIS Nakata memang gagal mencatatkan namanya dipapan skor pada laga terakhir saat timnya melipat PS Bengkulu 3-0 di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Senin lalu. "Kemenangan tim lebih berharga ketimbang saya harus mencetak gol," ujarnya dalam bincang-bincang dengan Waspada, kemarin.

Tugas mencetak gol memang bukan kewajibannya. Namun, Nakata punya kenangan manis dengan klub asal Bengkulu ini. Pasalnya, pada laga pembuka Divisi Utama Liga Indonesia di Sawah Besar, Bengkulu 19 November 2010 lalu, dia menjadi pencetak gol dalam kemenangan timnya 2-1. Satu gol lagi dilesakkan Abdul Musawir.

"Memang, saya sempat berharap bisa cetak gol lagi lawan Bengkulu, untuk menutup putaran kedua dengan gol kedua. Itu satu-satunya gol saya musim ini. Sepertinya itu menjadi gol pertama sekaligus terakhir. Tapi, belum tahu bagaimana peluang di 8 besar," ungkap lajang kelahiran, Lambaro, Aceh Besar 12 Mai 1988 ini.

Tak mencetak gol dilaga pamungkus, bukan lantas membuatnya kecewa. Sebab, selama ini, kontribusinya bagi tim juga tak kalah besar. "Dia memang tak banyak mencetak gol, tapi assit dia yang menjadi gol juga banyak. Peran dia juga tak kalah penting," timpal Dicky Anggriawan, kiper Persiraja.

Kini, anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir dari pasangan Usman (60) dan Saudah (53) sedang merengkuh bahagia. Sebagai pemain profesional, dia dkk, mampu membawa timnya mengakhiri kompetisi musim ini dengan status juara grup. Apalagi ini tahun keduanya di level Persiraja senior.

Lahir dengan nama Mukhlis, pria ini malah lebih tenar dengan nama Nakata. Asal usul panggilan itu, Mukhlis sendiri tak ingat sejak kapan muncul. Tapi, setidaknya sejak tim nasional Jepang berlaga di Piala Dunia 2002 yang dikapteni Hidetoshi Nakata, sejak itulah orang dikampungnya pun 'mengganti' panggilan Mukhlis dengan Nakata.

Rasanya tak berlebihan, jika pengidola Lionel Messi ini, disapa begitu. Karena ciri-cirinya Mukhlis yang paling kontras adalah pada matanya yang sipit. "Akhirnya, semua orang memanggil saya dengan nama Nakata," urai mantan siswa SMP 3 Ingin Jaya, Aceh Besar itu.

Bekas ball boy

Semua pemain bola itu tak memulai karier dengan gampang. Begitu pula dengan Mukhlis. Sejak masih dibangku kelas lima sekolah dasar, dia sudah bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB) Aneuk Rincong. Hingga usia 18 tahun, dia masih memperkuat klubnya dalam berbagai even termasuk mengikuti Piala Bogasari.

Pada umur 18 tahun, pria bermata sipit ini juga menjadi bagian dari Persiraja junior dan PSAB Aceh Besar junior.
Sebelumnya, dia juga menjadi pemain PPLP bahkan sempat tampil di Thailand dan menjadi juara empat di sana.
Pada 2006 dia memperkuat daerahnya di Porda X di Takengon.

Mukhlis juga membela Aceh pada Pra PON di Jakarta dan menjadi pilar tim Aceh pada PON 2008 di Kalimantan Timur. Sebelum bergabung dengan Persiraja, dia memperkuat PSAB Aceh Besar di Divisi I pada musim 2009-2010.

Dia dan temannya Agus Mulyadi masuk pada putaran kedua, saat Persiraja dilatih arsitek bertangan dingin Anwar. "Coach Anwar berjasa dalam perkembangan karier saya di tim ini," ujar pria yang juga mengangumi, Dahlan Djalil, mentor dan seniornya di Persiraja.

Katanya, peran Anwar yang kini membesut PSAP Sigli tidak kecil. "Awalnya, posisi saya gelandang. Karena postur saya yang tidak besar, Bang Anwar menyarankan saya main sebagai wing back kanan, Alhamdulillah, sampai sekarang saya main di posisi ini," ungkap jebolan tim PON Aceh 2008 ini.

Masuknya Nakata dan Agus ketika itu, makin menambah jumlah pemain jebolan PON yang memperkuat barisan Persiraja. Sebelumnya, sudah ada Fahrizal, Fahrizal Dillah, Nanda Lubis dan Defri Rizki. Nama terakhir pindah ke Persikabo dan sekarang bermain di Persih Tembilahan.

"Dia pemain yang potensial dan masih bisa berkembang. Usianya, masih muda baru 23 tahun, prospeknya cerah. Sekarang tergantung Nakata sendiri, mau eksis di sepakbola atau tidak," ujar Dahlan Djalil ketika diminta komentarnya.

Bermain di Persiraja memang menjadi cita-citanya sejak kecil. Masa di mana dia harus membongkar tabungan untuk membeli sepatu bola. Dan terpaksa membolos dari sekolah agar bisa latihan pada sore harinya. Ada satu kenangan yang tak bisa dilupakan saat masih belajar di SMK 2 Banda Aceh.

"Tas sekolah tidak saya isi dengan banyak buku, tapi sepatu bola. Saat jam praktek di bengkel sekolah, saya bolos dan berangkat ke lapangan untuk latihan," ujar mahasiwa Fakultas Ekonomi Universitas Serambi Mekkah ini yang masih tercatat sebagai tenaga kontrak di bank daerah.

Read more »

Kamis, 20 Januari 2011

Pada Safri Reidl Percaya


SAFRI Umri baru saja menyelesaikan latihan di komplek Stadion Harapan Bangsa. Dia ditemani empat rekannya yang juga pemain bola. Sebelum matahari tepat di atas kepala, dia istirahat sambil menyeruput minuman hangat.

Pria itu tak lain, fullback Persiraja musim 2010-2011. Mantan anak didik Diklat Ragunan itu terpilih sebagai satu dari 24 pemain lainnya yang akan memperkuat Indonesia di ajang Pra Olimpiade 2012. Ini untuk keempat kali namanya masuk dalam skuad tim nasional (timnas).

Sebelumnya, lelaki kelahiran Kutacane 12 Februari 1990 ini rutin menghuni skuad timnas junior. Rekam jejaknya dimulai dari timnas U-17 yang diasuh duet pelatih Iwan Setiawan dan Aji Santoso pada 2006. Lalu pada skuad timnas U-19 tahun 2008 yang saat itu dilatih Bambang Nurdiansyah.

Setahun kemudian, pada 2009 dia juga masuk skuad timnas U-21 yang diasuh Banur, mantan pemain sepakbola legendaris Indonesia. Tahun 2010 ini, Safri kembali masuk skuad timnas yang dipersiapkan untuk Pra Olimpiade 2012. Timnas U-23 ini dilatih Alfred Reidl.

Saat pelatih asal Austria itu mengumumkan 25 nama skuadnya, Safri masih dalam penerbangan Jakarta-Banda Aceh. "Saya baru tahu saat transit di Medan. Waktu buka hape sudah banyak pesan masuk," cerita Safri dalam bincang-bincang dengan Waspada, Selasa (18/1) di Banda Aceh.

Salah satu pesan tersebut, kata Safri dari Asisten Pelatih Wolfgang Pikal. "Awalnya saya tak sempat terbanyang bisa lolos. Ternyata Allah menentukan lain, dan alhamdulillah," ujar putra sulung pasangan Saiful Bahri dan Salamah Ariga ini.

Menjadi langganan timnas, tak diperoleh Safri dengan gampang. Kiprahnya dijagat sepakbola dia rintis sejak belia di sekolah sepak bola (SSB) Aneuk Rincong. SBB tersebut didirikan orang tuanya, Saiful Bahri yang seorang pegawai negeri.

Mantan siswa SMP 1 Banda Aceh melanjutkan sekolah ke Diklat Ragunan selama tiga tahun, dari 2005-2008. Dalam periode itulah di memperkuat tim usia 18 tahun (suratin) Persita Tangerang pada 2005. Kemudian bermain di tim usia 18 Persijap Jepara tahun 2006.

Tahun berikutnya dia bermain di junior PSIS Semarang. Pada tahun yang sama yakni 2007-2008 dia masuk skuat Pelita Jaya di bawah asuhan Fandi Ahmad, mantan pemain nasional Singapura. Dia bahkan masuk skuad U-23 Persija Jakarta pada 2008.

Musim kompetisi 2009, pemain sayap ini bermain untuk klub PSIS Semarang. Baru, pada 2010 dia kembali ke kampung halaman, memperkuat Laskar Rencong Persiraja Banda Aceh. Di bawah polesan Herry Kiswanto, Safri belum tampil maksimal, meski timnya melesat di puncak klasemen.

Di Persiraja, karirnya memang sedikit mandek. Hingga sembilan kali bertanding, dia baru dua kali masuk line up starting eleven. Lima kali sebagai pemain cadangan, dan masuk di babak kedua. Sisanya dua kali, dia absen karena ikut seleksi timnas.

Pun begitu, Safri tak berkecil hati. Dia maklum, itulah stategi pelatih. Apalagi dia sendiri merasa menanggung beban berat jika tampil di depan publik sendiri. Diakuinya, ekspektasi penonton yang begitu tinggi, membuat dirinya grogi.

Ini terbukti dalam beberapa laga terakhir di H Dimurthala. Menyikapi kondisi ini Headcoach Persiraja, Herry Kiswanto mengakui, sejumlah talenta mudanya masih grogi. "Mereka punya potensi besar, karena itu jangan putus asa, teruslah berusaha melawan rasa itu semua," kata Herkis suatu ketika.

Pada sisi lain, dia juga salut dan memuji habis taktik Herkis dalam membesut Laskar Rencong. Kata pengagum Gareth Bale--pemain Tottenham Hotspur, dia terkesan dengan mantan gelandang timnas 80-an ini dalam segala hal.

Begitu pula dengan Alfred Reidl. Menurut mantan pemain PPLP ini yang mengagumi klub Arsenal itu, Reidl adalah tipe pelatih penuh disiplin. Reidl ikut pula mensupport semua pemain muda yang potensinya dan pengalamannya masih perlu ditingkat.

"Semua pemain muda Indonesia memang lamban berkembang. Berbeda dengan pemain muda di Eropa. Tapi semua pemain muda butuh pengalaman," ujar pria yang juga mengagumi Nasuha itu mengutip komentar pelatih asal Austria itu.

Orang tuanya, Saiful Bahri, ketika dihubungi terpisah mengaku bangga anaknya mewakili klub Persiraja Banda Aceh untuk bermain di tim nasional. Kecuali Safri, dari Laskar Rencong ada satu skuad lagi yang ikut seleksi yakni Fahrizal Dillah. Namun, striker jangkung ini gagal bersaing dan akhirnya dicoret Reidl.

Read more »

Jumat, 24 Desember 2010

Namaku Robert...


ANDREA adalah bek sayap impresif yang dimiliki Persiraja Banda Aceh saat ini. Untuk ukuran pemain bola, dia memang tidak berpostur Eropa. Tapi lihat saja aksinya saat berduel di lapangan hijau.

Ketat dalam menjaga lawan, dan rajin membantu serangan. Itulah yang membuat lajang kelahiran 18 April 1984 ini selalu menjadi pilihan setiap pelatih yang menjadi juru taktik di Persiraja.

Terbukti, meski kerap berganti pelatih, posisinya di sayap kiri selalu di bawah kawalannya. Meski dengan tinggi 162 cm, Andrea selalu bisa tampil spartan dalam membela klubnya. Terbukti, untuk sementara timnya meraup 15 poin dari lima kali pertandingan.

Pengagum Roberto Carlos yang akrab disapa Ateng ini, amat menjiwai kariernya sebagai pengocek si kulit bundar. Pun begitu, menjadi aneh jika kemudian ada yang menanyakan koleksi golnya.

"Pada intinya, semua pemain itu ingin mencetak gol setiap tampil. Meski tugas utama itu ada di pundak stiker," ujar sulung dari enam bersaudara putra pasangan Fakhri AR (57) dengan Puteri (50) ini.

Momentum mencetak gol itu menjadi langka bagi Andrea. Pasalnya, karena posisinya sebagai pemain belakang. Jadi, tipis peluang untuk mengoyak jala lawan. Akan tetapi, begitu kans ada di depan mata, dia pun tak menyia-nyiakan momen bagus.

Itulah yang terjadi di Stadion Narasinga Rengat, pada Senin (20/12) lalu. Saat timnya membabat Persires 3-1, Ateng menyumbang sebiji gol. "Saya sudah empat tahun lamanya menunggu gol ini," ujarnya sembari tersenyum.

Ini mengingatkan kita pada aksi winger Manchester United, Patrick Evra. Bek sayap asal Perancis itu pun mengakui pandangan tersebut. Untuk mencari sebiji gol saja, dia harus menunggu tiga tahun lamanya.

Sambil berseloroh, dia mengakui, mungkin ada siklus empat tahun sekali, sehingga pria 26 tahun ini mencetak gol lagi. "Hasrat saya, Insya Allah, ingin selalu tampil bagus dan memberi yang terbaik untuk tim," sebutnya.

Ada satu yang disesalinya usai tampil di Rengat, yakni kartu kuning. Kibasan kartu itulah yang membuatnya, absen pada 3 Januari nanti saat timnya melawan Persipasi Bekasi di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh.

Sebab, pada laga perdana di Bengkulu, pemilik jersey nomor 3 ini juga mendapat kartu serupa, menariknya dari wasit yang sama. "Dua kali kartu dari wasit yang sama, mungkin dia dendam dengan saya," katanya sambil terkekeh.

Kenangan di SUGBK

Lazimnya pemain bola, begitu juga Andrea dalam menjalani karier sepakbolanya. Dia mengawali dari Sekolah Sepak Bola (SSB) Ban Timoh saat masih masih belia, yakni saat masih sekolah menengah pertama 1996.

"Sepakbola itu sudah mendarah daging dalam hidupku sejak kecil," ujar putra Montasik, Aceh Besar ini. Darah bolanya mungkin saja mengalir dari sang ayah, yang juga pemain bola antar kampung.

Dia delapan tahun belajar ilmu sepakbola di SBB Ban Timoh yang diasuh Darmawan AG--mantan pemain Persiraja 80-an. Dari situ dia, mulai memperkuat Persiraja Junior U-16 dan U-18. "Waktu itu main di Liga Bogasari," kenang Andrea.

Debut profesionalnya di tim senior Persiraja dimulai penuh kenangan. Bagaimana tidak, dia langsung tampil di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) saat Laskar Rencong berduel dengan Persija Jakarta.

Kala itu, Persiraja diasuh Sinyoe Aliandoe. Bermain dengan rekan senior semacam Tarmizi Rasyid, Irwansyah (alm), Dahlan Djalil Cs, tak membuat Andrea grogi dan salah.

"Mental Andrea bagus, dia tidak demam panggung saat tampil perdana. Padahal mainnya di Gelora," ujar mantan pilar Persiraja, Tarmizi Rasyid, yang kini sudah gantung sepatu disepakbola profesional.

Sejak itulah, namanya mewarnai sepakterjang Persiraja. Pada musim 2007-2008 dia ikut sang mentor yakni Anwar main di PSSB Bireuen dan PSAP Sigli.

Dalam dua musim terakhir dia sudah tak berpindah ke lain hati. "Insya Allah, jika ada umur panjang dan sehat badan, akan bermain untuk persiraja terus," tutup Andrea. Semoga.

Read more »

Sabtu, 04 Desember 2010

Kerkhof, bukan Kuburan Biasa


ITU kuburan Belanda," tunjuk Zulkifli, seorang penarik becak mesin kepada dua turis penumpangnya pagi itu. Jumat pagi kemarin, cuaca tak begitu cerah, tapi malah berselimut panas.

Read more »

Senin, 29 November 2010

Barisan Di Bawah Hujan


HUJAN menyirami Banda Aceh sebelum Ashar, pada Senin kemarin. Kata pepatah lama, hujan itu membawa berkah. Mereka yang datang di bawah hujan pertanda baik. Bukti alam menerima si tamu.

Read more »

Jumat, 19 November 2010

Namanya Martti Ahtisaari


Pria ini datang dari benua biru. Dalam lima tahun terakhir dia rajin bolak-balik ke Aceh. Pekan kemarin, dia kembali menginjak tanah Aceh untuk keempat kalinya. Dia juga memantau perkembangan perdamaian di kawasan itu.

Read more »